Ilustrasi bayi menangis ditinggal kerja (freepik)
Ibu dan Anak Kesehatan

Ciri-Ciri Pola Asuh Hyper Parenting yang Harus Diwaspadai

DOTLARE — Tiap orangtua pasti mengidamkan atau mendambakan punya anak sehat dan memiliki karakter yang terbaik. Tanpa disadari, sebenarnya anak-anak pun demikian.

Mereka juga ingin kedua orangtuanya menyayangi, mengasihi sepenuh hati dan bahkan bisa menjadi teladan.

Namun, karena pola asuh yang kurang tepat, akhirnya apa yang didambakan orangtua maupun anak belum bisa terwujud. Bahkan ada anak-anak yang terganggu perkembangan psikologisnya karena pola asuh yang tidak tepat.

Namun, terkadang dalam penerapan pola asuh tanpa disadari ada beberapa sikap yang sedikit melenceng hingga menganggu perkembangan psikologis anak dan membuat mereka tidak bahagia. Bahkan ada orangtua yang terlalu mengekang dan menuntut anak-anaknya, sehingga berdampak buruk pada perkembangan mereka.

Salah satu yang menjadi perhatian banyak orang adalah hyper parenting sebagai sebuah penerapan pola asuh kurang terkontrol dan dicap berlebihan.

Hyper parenting, seperti dikutip dari popmama.com, adalah sebuah penerapan pola asuh yang seringkali dilakukan di luar kontrol, meskipun orangtua memiliki tujuan agar anak-anaknya bisa memiliki pencapaian terbaik. Dalam pola pengasuhan hyper parenting, orangtua hanya ingin anaknya terlihat sempurna dan dituntut sukses tanpa memikirkan perasaan anak.

Awas Gangguan Kesehatan Mental

Padahal tuntutan dengan terus menganggap anak dapat menganggu kesehatan mentalnya. Tanpa disadari hyper parenting yang dilakukan pada anak-anak yang sudah sekolah dapat membuat mereka tidak bebas bermain karena waktunya dihabiskan untuk les serta kegiatan tambahan lainnya.

Pola asuh hyper parenting memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Orangtua memiliki rasa cemas berlebihan terhadap sesuatu yang sedang dialami oleh anaknya. Dalam tipe ini, orangtua seolah ingin selalu memastikan si Kecil tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dilarang olehnya.

2. Orangtua sangat detail seperti harus mengetahui dan memastikan kondisi anak-anaknya setiap saat. Orangtua mudah sekali frustasi dan menganggap dirinya gagal dalam mendidik ketika perkembangan anaknya tidak sesuai keinginan.

3. Orangtua seringkali berperilaku tidak masuk akal dengan meminta anak melakukan berbagai kegiatan tanpa melihat kondisi tubuhnya.

Dengan berbagai perilaku yang diperlihatkan orangtua melalui hyper parenting, tanpa disadari pelan-pelan dapat mengganggu perkembangan anak. Perlu diketahui bahwa hyper parenting yang dilakukan orangtua dapat membuat anak merasa kelelahan secara emosi, sosial dan fisik.

Tak hanya itu, hyper parenting dapat meningkatkan depresi pada anak dan membuatnya kurang percaya diri setiap kali ingin berpendapat. Sebelum hyper parenting terus terjadi dan berdampak buruk, maka perkembangan anak semakin lama akan terganggu.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *