Punya Teman Khayalan
Ibu dan Anak

Ketika Si Kecil Punya Teman Khayalan

DOTLARE — Anda sering mendapati si kecil sedang bicara dengan boneka atau robot miliknya? Tidak perlu kuatir bunda. Karena anak yang punya teman khayalan biasanya anak tunggal atau anak sulung.

Ini bukan berarti teman khayalan hanya dimiliki oleh anak yang kesepian, pasalnya anak-anak yang memiliki teman khayalan cukup kreatif dan memiliki lingkungan sosial yang baik. Teman khayalan bukan pertanda bahwa seorang anak mempunyai masalah atau kelainan.

Sebuah penelitian yang dilakukan kepada orang-orang yang berprestasi dan kreatif menemukan lebih dari seperempat penerima penghargaan ini memiliki teman khayalan sewaktu kecil.

Ketika anak-anak mempunyai masalah, teman khayalan bisa menjadi untuk mengatasi masalah mereka. Anak yang pernah mengalami trauma, dapat mengandalkan teman khayalannya untuk membantu melewati masa-masa sulit.

Kita sebagai orangtua kadang khawatir saat anak memiliki teman khayalan karena mungkin dia tidak akan memiliki teman sejati atau selalu kesepian. Namun, perlu diingat, memiliki teman khayalan tidak berarti anak punya masalah sosial.

Teman khayalan malah bisa bermanfaat sebagai cara yang untuk melatih keterampilan persahabatan, seperti menyelesaikan konflik, berbagi dan bercerita.

Saat anak berbicara dengan teman imajinernya, itu mampu meningkatkan keterampilan komunikasi anak. Terlibat dalam dialog dengan teman imajiner akan membuat anak bisa mengambil perspektif teman imajiner. Akibatnya, anak-anak dengan teman khayalan mungkin lebih baik dalam memahami perspektif pendengar atau pengamat.

Lantas, Bagaimana Orangtua Harus Bersikap?

Jangan menantang keberadaan teman khayalan. Sebaliknya, biarkan anak-anak untuk bermain bersama. Meski pada awalnya anak akan bersikeras bahwa teman khayalannya nyata, tapi lama kelamaan anak akan tahu perbedaannya dan akan mengakuinya.

Selain itu, orangtua tidak perlu melayani teman imajiner anak seperti memberikan semangkuk camilan sendiri. Orangtua bisa meminta anak berbagai makanan mereka. Penting juga bagi orangtua untuk tidak membiarkan teman khayalan anak bertanggung jawab atas kesalahan perilaku mereka.

Biarkanlah anak memiliki teman khayalannya. Perhatikan dan nikmatilah . Anda akan terpesona oleh kreativitasnya dan kaget betapa dia bisa begitu berwawasan. Lagipula teman khayalan umumnya tidak selamanya.

Ketika anak-anak bertransisi keluar dari masa kanak-kanak, teman khayalan biasanya memudar, menjadi kurang penting, atau bahkan dilupakan karena anak-anak sudah mempunyai kegiatan lain. Ia akan mengembangkan kreativitasnya dalam bentuk yang berbeda. Segera temui dokter anak jika anak tidak dapat memahami bahwa temannya benar-benar tidak ada.

Namun, psikosis pada anak jarang terjadi. Teman imajiner di masa kecil bukan merupakan prediktor psikosis di kemudian hari. Anak-anak dengan teman khayalan tidak memiliki kemungkinan untuk mengembangkan gejala disosiatif di masa dewasa.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *