Ilustrasi hadapi anak keras kepala (freepik)
Ibu dan Anak

Sering Mengancam Anak Balita, Begini Dampak Negatifnya

DOTLARE — Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 jenis kekerasan pada anak, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional. Nah sering mengancam anak balita merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap anak, lho!.

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang disengaja dan menghasilkan luka. Sedangkan kekerasan emosional adalah perilaku yang menimbulkan trauma psikologis pada anak, seperti menghina, merendahkan, dan menganca.

“Awas loo, jangan pergi main, kalau sampai main nanti bunda cubit!”

Kalimat seperti itu pasti sering Ayah Bunda ucapkan, tanpa benar-benar melakukan perbuatan itu. Namun tanpa Ayah Bunda sadari, kalimat seperti itu termasuk ancaman, yang bisa membuat anak jadi trauma!

Apa sih, dampak sering mengancam anak balita? Yuk, kita cari tahu apa saja dampak negatif jika terlalu sering mengancam anak balita bagi tumbuh kembangnya.

1. Tidak Mau Bereksplorasi
Kalimat ancaman yang bersifat menakut-nakuti, seperti, “Jangan keluar rumah, nanti kamu ditangkap penculik, lho!” pasti akan membuat Si Kecil takut bereksplorasi.

Apalagi jika masih ditambahi ancaman seperti, “Kalau kamu enggak nurut, nanti Mama jewer!” Ancaman seperti itu sama juga Ayah Bunda membatasi rasa ingin tahu anak.

2.Anak jadi Penakut
Pada usia 0-5 tahun, rasa ingin tahu anak sangat besar, dan itu bisa terhalang jika Ayah Bunda sering mengancamnya. Akibatnya, anak menjadi sosok penakut karena setiap mereka penasaran, selalu mendapat ancaman dari orang tuanya.

3. Tidak Percaya Diri
Ketika anak ingin mengetahui atau penasaran terhadap sesuatu, tapi belum-belum Ayah Bunda sudah memberinya ancaman, tentu saja ini akan membuat Si Kecil tidak percaya diri. Sebagai orang tua kita tentu enggak mau dong, Si Kecil tumbuh sebagai sosok yang enggak PD atau minder.

4. Tidak Berani Mengambil Keputusan
Semua yang ingin dia coba atau dia lakukan, harus atas seizin Ayah Bunda, dan seringkali ketika mereka meminta izin, berakhir dengan larangan atau mungkin ancaman.

Pada anak tidak pernah belajar mengambil keputusan, karena sudah takut dengan ancaman dari orang tuanya. Ini pola asuh yang tidak baik ya Bunda. Melindungi boleh saja, tapi jangan sampai mengekang apalagi sampai mengancam.

 Tanda & Gejala Kekerasan Psikis

IDAI menyebutkan ada beberapa tanda dan gejala kekerasan psikis pada anak, seperti:
– Ketakutan yang abnormal, mimpi buruk
– Perubahan percaya diri yang tiba-tiba
– Sakit kepala atau nyeri perut tanpa penyebab medis yang jelas
– Cenderung melarikan diri
– Kegagalan di sekolah (prestasi menurun, sering bolos, tidak konsentrasi belajar).

Saran Pakar

Hampir semua orang tua pernah bahkan sering mengancam anak. Sebenarnya niat orang tua melakukan itu hanya ingin mendisiplinkan anaknya, tanpa maksud menyakitinya. Untuk itu, American Academy of Pediatrics merekomendasikan orang tua guna mencari cara lain yang lebih .

Karena tindak kekerasan dapat mengakibatkan kecenderungan perilaku agresif pada anak serta meningkatkan risiko mereka melakukan tindakan kriminal dan penggunaan zat terlarang saat anak dewasa.

Orang tua adalah tempat ternyaman untuk anak melakukan segala hal, jadi jangan sampai mereka takut untuk terbuka dengan orang tuanya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *