Anak-Anak Bertengkar
Ibu dan Anak

Sikap Orang Tua saat Anak-Anak Bertengkar

DOTLARE – Saat asyik bermain bersama, tiba-tiba anak bertengkar. Sebelumnya adik dan kakak juga saling bercanda. Tapi lama-lama jadi bantah-bantahan dan berujung berantem.

Sebagai orang tua, kita pasti pernah mengalaminya dan tidak jarang kita merasa pusing dan stres melihat anak-anak bertengkar. Rasa-rasanya, ada saja yang membuat keduanya tak bisa akur. Yang paling sering, mereka bertengkar karena rebutan tontonan TV, mainan, atau kadang hal yang sepele banget. Aduuh, bikin gemas ya.

Jika mereka sudah bertengkar seperti itu, orang tua pasti merasa kesal, marah, dan emosi. Walau begitu, sebaiknya orang tua jangan langsung terbawa emosi. Sesekali anak bertengkar atau berantem itu hal yang wajar. Kegiatan pertengkaran itu adalah proses belajar keterampilan sosial anak-anak.

Anak-anak bertengkar itu bagian dari tahap berpikir egosentris, berpikir dari sudut pandangnya. Anak belum paham bahwa anak lain punya cara berpikir yang berbeda dengan dirinya. Orang tualah yang lebih paham soal ini, maka harus bisa bersikap tepat.

Orang Tua Harus Bagaimana?

Lihat sikonnya dulu jangan langsung dilerai. Dengarkan, apa inti pertengkaran mereka. Bertengkar adalah proses belajar untuk mempertahankan sikap. Biarkan anak-anak mencoba menyelesaikan sendiri persoalan di antara mereka.

Jika anak-anak mulai main pukul atau menggunakan benda saat bertengkar, segeralah turun tangan. Amankan benda itu dari tangan mereka, kemudian ajak bicara, mengapa anak-anak saling pukul. Apa pun alasannya, katakan dengan tegas mereka tidak boleh saling menyakiti.

Jangan sampai Anda bereaksi negatif. Tunjukkan sikap bahwa bertengkar itu boleh dilakukan asalkan tidak disertai kekerasan. Sejauh anak-anak bertengkar dengan beradu argumentasi dan mempertahankan argumentasinya, biarkan saja. Dalam kehidupannya kelak, kemampuan mempertahankan diri dengan berargumentasi lebih dapat diterima daripada adu kekuatan fisik dan melakukan kekerasan.

Jadilah penengah yang adil. Jangan membela salah satu, apalagi selalu membela anak yang lebih kecil. Orang tua harus bersikap netral, cari tahu penyebab anak-anak bertengkar. Jika si adik yang menjadi penyebab pertengkaran, dia juga harus diberi tahu letak kesalahannya.

Meminta anak untuk segera berdamai, minta maaf dan bersalaman, juga bukan cara tepat. Ingat, mereka masih anak-anak. Konsep benar dan salah masih abstrak untuk mereka. Lebih baik tunjukkan langsung kesalahannya.

Jika anak-anak sudah mau saling berdamai, jangan ragu lagi untuk memberi pujian. Anak-anak itu secara alamiah gampang memaafkan dan melupakan pertengkaran terjadi. Jelaskan, bahwa tidak sering berantem itu sesuatu yang baik.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *